Minggu, 08 Februari 2015

gundul pacul

gundul gundul pacul cul, gembelengan
nyunggi nyunggi wakul kul, gembelengan
wakul ngglimpang segane dadi saklatar
wakul ngglimpang segane dadi saklatar

Kosakata
- Gundul = kepala plontos (tanpa rambut)
- Pacul = cangkul (alat dari lempengan besi dibentuk persegi empat)
- Cul (ucul) = lepas dari genggaman
- Gembelengan = angkuh, sombong
- Nyunggi = menjunjung (membawa diatas kepala)
- Wakul = tempat nasi siap makan, biasanya untuk banyak orang
- Nggimplang = jatuh terbalik
- Sega = nasi
- Sak - latar = satu lantai

Lagu gundul pacul yang digolongkan lagu dolanan bagi anak kecil ini saya yakin masih banyak yang ingat luar kepala (orang jawa khususnya).
Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku TK sampai SD awal, saat bahasa indonesia masih belum lancar selalu menyanyikan lagu ini ketika diminta guru untuk menyanyi di depan kelas.

Tapi ternyata lagu yang konon diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga ini mempunyai arti yang sangat mendalam, kalau boleh saya berpendapat bahwa lagu ini lagu untuk orang dewasa (tua) yang dititipkan kepada anak-anak. Lho kok ? Nanti setelah saya uraiakan artinya saja, lho kok-nya ?

Gundul, yang dalam kosakata bebas saya diatas diartikan sebagai kepala tanpa rambut, mempunyai makna bahwa rambut yang merupakan mahkota (sehingga samphoo jadi begitu larisnya) tidak ada dalam kepala yang plontos, gundul. Artinya bahwa setiap orang itu terhormat meskipun tanpa mahkota yang identik dengan jabatan seorang raja/ratu. Sehingga gundul lebih diartikan sebagai seorang pemimpin.

Pacul, alat untuk mencangkul, arti lebih luasnya adalah untuk mencari nafkah, mengupayakan kesejahteraan, jadi jangan heran kalau orang jawa ketika ditanya hendak kemana akan menjawab, "arep macul". Meskipun bukan seorang petani. Cangkul dari dulu sampai sekarang bentuknya persegi empat (diluar gagang/pegangannya tentu saja), melambangkan empat lambang kehormatan.
Pacul, papat oang ucul (empat yang lepas).

Apa saja empat itu?
Mata, telinga, hidung dan mulut.
Maka ketika mata sudah tidak bisa melihat kondisi masyarakat (penderitaan dan kebutuhannya),
ketika telinga sudah tidak bisa mendengar nasehat dan aspirasi rakyat,
ketika hidung susah mencium bau wangi kebajikan,
dan ketika yang keluar dari mulut tidak mencerminkan keadilan. Maka lepas dan hilanglah kehormatan itu.

Gembelengan, tingkah laku yang penuh kesombongan dan keangkuhannya.

Maka ketika diberi amanah (nyunggi) untuk mengemban kesejahteraan rakyat (wakul), seorang gundul pacul akan tetap berlaku gembelengan, sehingga amanah itu akan ngglimpang, jatuh, dan sumber daya kesejahteraan (nasi/sega) akan berceceran dan tumpah memenuhi tempat kotor sehingga tidak bisa dimakan, sia-sia.

Maka tepat lah jika wejangan Sunan Kalijaga dititipakn kepada anak-anak yang daya ingatnya masih luar biasa hebat. Yang akan terus disenandungkan untuk disampaiakan kepada siapapun yang akan menjadi pemimpin.

-Dari berbagai sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar