Kapten
Beberapa tahun yang lalu, pelatih sebuah klub sepakbola
memberi arahan kepada para pemain baru di sekolah sepak bola. Bajuri, pelatih
yang sudah bertahun tahun menukangi tim senior di SSB itu kali ini dengan raut
wajah sangat serius memberikan arahan kepada bocah-bocah ini.
“dalam sepakbola itu yang palung penting kalian harus tahu
posisi kalian masing-masing, yang kiper ya jadi kiper yang bagus, yang bek ya
jadi bek yang tangguh, jangan sampai serangan lawan itu membahaykan gawang. Pemain
tengah harus menjembatani permaian dan yang jadi playmaker ya harus bisa
membuat permainan sepakbola menjadi efektif, efisien, kalau perlu pakai
teknik-tehnik yang bikin penonton berdecak kagum, striker harus bisa membuat
gol walaupun semua pemain juga bisa mencetak gol, tapi dia yang punya tanggung
jawab bikin gol” jelas bajuri panjang lebar dengan tanpa mengurangi
kejelasannya bicaranya.
Para bocah manggut-manggut mendengarkan ceramah sang
pelatih, anggap saja mengerti semua yang disampaikan.
Si Jojo yang merasa dirinya lebih hebat dari para pemain
lain menyahut,
“saya yang jadi kapten pelatih”
Darso yang masuk SSB lebih dulu langsung menimpali Jojo,
“aku luweh pantes cuk,
saya coach yang jadi kapten.”
Wes ta lah, ga usah dipikir sopo sek bakal dadi kapten, sak
karepku. Luweh penting latihan supoyo ngerti strategi, mbuh kui strategine dewe
opo strategine musuh. Ga usah rebutan kapten. Latihan gimana caranya kalian itu
jadi yang terbaik di posisi kalian masing-masing, paham ?
“Paham pelatih”. Jawab pemain dengan keras dan kompak, entah
gimana si Jojo dan Darso.
--
Koen itu ate ngomong bal opo mbahas negoro to? Potong Bagong yang
ga tertarik dengan dunia bola.
Loh, lha itu, kamu
selalu tidak sabar dengan ceritaku kok gong, belum belum sudah mbesengut.
Ngene lho, katanya
kamu tadi bilang kalau media sekarang bancakan perebutan siapa yang bakal jadi
ketua di partai, bancakan ormas mana yang menurut mereka harus diadu, bancakan
siapa yang harus dibunuh karakternya, kalau perlu jangan sampai hidup lagi.
Iyo, tapi ya jangan berbelit-belit, bahasamu udah kaya politisi di
senayan aja.
Gini lho gong,
terkadang kita itu terlalu sibuk untuk gimana caranya menjadi striker yang
hebat supaya banyak nge-gol-in dan dikenal orang untuk selanjutnya mengincar
menjadi kapten. Bahkan terkadang kawan sendiri disikut, dijegal, di-tacling. Padahal
kan masing-masing posisi itu ada perannya, bahkan pemain cadangan itu ada
perannya, coba pikir kalau ada pemain yang cedera saat pertandingan tapi nggak
ada pemain cadangan.
Kita itu terlalu
sibuk memikirkan siapa yang jadi kapten atau pemimpin tim tapi melupaka kalau
lawan kita itu sedang melihat kita, sedang mengamati kita sambil terus menyiapkan
strategi untuk menghancurkan kita.
Partai-partai Islam
yang seharusnya memikirkan persoalan persoalan umat malah jadi bancakan media
untuk diekspos siapa yang sedang berebut jadi kapten, tidak semua memang. Tapi yang
lain bukan berarti bisa menyelesaikan permasalahan. Begitu juga organisasi-organisasi,
masih saja...
“wah, mbulet wae kon iku, wes intine wae lah”
Yoh oke-oke, baru-baru ini kita dibangunkan
dengan video misionaris yang melancarkan serangannya, padahal banyak hal
semacamnya itu terjadi di pelosok-pelosok, desa-desa, atau bahkan
diperkampungan urban.
Banyak lawan yang
sudah terdaftar di liga super kita gong, Kapitalisme, Industrialisasi,
Neokolonialisme, Marxisme, Komunisme juga mulai siap-siap masuk lagi, Missionarisme
jilid 2, dan Kebudayaan Barat yang suka pamer aurat itu.
Tapi kita masih
sibuk bertanding siapa yang paling Islam diantara kita. Siapa yang paling benar
diantara kita.
Wes terusno dewe
gong, kudune koen iku wes paham sopo wae iku. Aku yo mumet mikirke sopo sek iso
dadi kapten tim Indonesia ki, si Evan Dimas ketoke cocok.