Minggu, 16 November 2014

Kapten

Beberapa tahun yang lalu, pelatih sebuah klub sepakbola memberi arahan kepada para pemain baru di sekolah sepak bola. Bajuri, pelatih yang sudah bertahun tahun menukangi tim senior di SSB itu kali ini dengan raut wajah sangat serius memberikan arahan kepada bocah-bocah ini.

“dalam sepakbola itu yang palung penting kalian harus tahu posisi kalian masing-masing, yang kiper ya jadi kiper yang bagus, yang bek ya jadi bek yang tangguh, jangan sampai serangan lawan itu membahaykan gawang. Pemain tengah harus menjembatani permaian dan yang jadi playmaker ya harus bisa membuat permainan sepakbola menjadi efektif, efisien, kalau perlu pakai teknik-tehnik yang bikin penonton berdecak kagum, striker harus bisa membuat gol walaupun semua pemain juga bisa mencetak gol, tapi dia yang punya tanggung jawab bikin gol” jelas bajuri panjang lebar dengan tanpa mengurangi kejelasannya bicaranya.
Para bocah manggut-manggut mendengarkan ceramah sang pelatih, anggap saja mengerti semua yang disampaikan.

Si Jojo yang merasa dirinya lebih hebat dari para pemain lain menyahut,
“saya yang jadi kapten pelatih”

Darso yang masuk SSB lebih dulu langsung menimpali Jojo,
“aku luweh pantes cuk,
saya coach yang jadi kapten.”

Wes ta lah, ga usah dipikir sopo sek bakal dadi kapten, sak karepku. Luweh penting latihan supoyo ngerti strategi, mbuh kui strategine dewe opo strategine musuh. Ga usah rebutan kapten. Latihan gimana caranya kalian itu jadi yang terbaik di posisi kalian masing-masing, paham ?

“Paham pelatih”. Jawab pemain dengan keras dan kompak, entah gimana si Jojo dan Darso.

--
Koen itu ate ngomong bal opo mbahas negoro to? Potong Bagong yang ga tertarik dengan dunia bola.

Loh, lha itu, kamu selalu tidak sabar dengan ceritaku kok gong, belum belum sudah mbesengut.

Ngene lho, katanya kamu tadi bilang kalau media sekarang bancakan perebutan siapa yang bakal jadi ketua di partai, bancakan ormas mana yang menurut mereka harus diadu, bancakan siapa yang harus dibunuh karakternya, kalau perlu jangan sampai hidup lagi.

Iyo, tapi ya jangan berbelit-belit, bahasamu udah kaya politisi di senayan aja.

Gini lho gong, terkadang kita itu terlalu sibuk untuk gimana caranya menjadi striker yang hebat supaya banyak nge-gol-in dan dikenal orang untuk selanjutnya mengincar menjadi kapten. Bahkan terkadang kawan sendiri disikut, dijegal, di-tacling. Padahal kan masing-masing posisi itu ada perannya, bahkan pemain cadangan itu ada perannya, coba pikir kalau ada pemain yang cedera saat pertandingan tapi nggak ada pemain cadangan.
Kita itu terlalu sibuk memikirkan siapa yang jadi kapten atau pemimpin tim tapi melupaka kalau lawan kita itu sedang melihat kita, sedang mengamati kita sambil terus menyiapkan strategi untuk menghancurkan kita.
Partai-partai Islam yang seharusnya memikirkan persoalan persoalan umat malah jadi bancakan media untuk diekspos siapa yang sedang berebut jadi kapten, tidak semua memang. Tapi yang lain bukan berarti bisa menyelesaikan permasalahan. Begitu juga organisasi-organisasi, masih saja...

“wah, mbulet wae kon iku, wes intine wae lah”

 Yoh oke-oke, baru-baru ini kita dibangunkan dengan video misionaris yang melancarkan serangannya, padahal banyak hal semacamnya itu terjadi di pelosok-pelosok, desa-desa, atau bahkan diperkampungan urban.
Banyak lawan yang sudah terdaftar di liga super kita gong, Kapitalisme, Industrialisasi, Neokolonialisme, Marxisme, Komunisme juga mulai siap-siap masuk lagi, Missionarisme jilid 2, dan Kebudayaan Barat yang suka pamer aurat itu.
Tapi kita masih sibuk bertanding siapa yang paling Islam diantara kita. Siapa yang paling benar diantara kita.


Wes terusno dewe gong, kudune koen iku wes paham sopo wae iku. Aku yo mumet mikirke sopo sek iso dadi kapten tim Indonesia ki, si Evan Dimas ketoke cocok.